Tuesday, April 26, 2005

Gundahkoe

Malam ini aku bergelut keras melawan agresi nasib buruk yang datang menimpa. Semakin aku protes keras terhadapnya, tetap saja ia angkuh melecehkanku. Berbagai macam cara sudah aku coba untuk menyiasati keadaaan ini. Tetap saja Ia masih mengeksploitasi kekuatan fisik dan mentalku mungkin hingga minggu yang akan datang. Seakan ia tak peduli dengan titik nadirku.

Kau telanjangi kepongahanku terhadap waktu. Hilang sudah kegoanku terkikis habis oleh cambuk mautmu. Tamparan nasib ini meluluhlantakkan semua sifat yang sudah mendarah-daging Aku dipaksa untuk mengevaluasi kembali semua kelakuanku. Kau coba renggut paksa sifat superman ku.

Aku bagaikan bocah bodoh yang butuh uluran pertolongan. Emosiku sudah habis terbakar. Kini aku pasrah pada keadaan. Aku hanya bisa menunggu masa-masa penuh penyiksaan ini. Terkadang letupan pemberontakan kecil masih muncul untuk memberikan perlawanan sporadis. Apalah artinya menghadapimu....Aku yakin ini adalah kondisi terberat dalam bentuk cobaan yang datang berulang. Dan sangat mungkin kelak aku akan tersiksa ulang oleh kondisi serupa.

Sejuta kata maki dan umpat habis kulontarkan padamu. Raga tanpa jiwa pun sudah kujalani 2 minggu berturut-turut. Hasil nya tetaplah sama. Aku masih belum bisa keluar dari penderitaan lahir dan batin ini. Kau memang perkasa wahai sang cobaan. Kau buat aku tunduk, tak berdaya menghadapi keperkasaanmu. Walau kadang aku masih menganggap bahwa kamu kurang ajar...sangat kurang ajar jika boleh.

Aku tahu kamu suruh aku untuk menarik hikmah dan manfaat akan arti semua ini. Tapi kamu sudah membunuh akal sehatku sehingga kini kau secara tidak langsung mengkondisikanku dalam keadaan setengah sadar. Sebuah kondisi yang sangat tidak memungkinkan untuk bertindak rasional untuk mengambil langkah yang terbaik!

Apapun keinginanmu...aku hanya berharap segera melewati cobaan ini.

(selasa dini hari memasuki rabu pagi march 16, 2005)